UNGKAPPOST, Lampung Barat – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai program unggulan Presiden kini menuai kritik keras di Lampung Barat. Penyajian makanan di SPPG Tugu Sari 2 menjadi sorotan setelah daging sapi yang disajikan kepada penerima manfaat disebut-sebut “seperti karet” dan sulit dikonsumsi.
Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 17 April 2026. Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi, sebuah video berdurasi sekitar 10 detik beredar luas dan memperlihatkan seorang penerima manfaat kesulitan mengunyah daging yang diduga belum matang sempurna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Gimana ini MBG Sumber Jaya, ini sembarangan. Bisa sembelit nanti, dagingnya kayak karet” terdengar dalam video tersebut.
Tak hanya di satu titik, keluhan serupa juga muncul dari sejumlah sekolah lain. Saat dikonfirmasi, pihak sekolah membenarkan bahwa menu hari itu adalah daging sapi dan mengakui teksturnya alot.
“Iya, mas. Menunya sama, daging sapi. Memang alot,” ungkap salah satu pihak sekolah.
Kepala SPPG Tugu Sari 2, Dedi Suhendra, juga tidak membantah bahwa menu yang disajikan pada hari tersebut adalah daging sapi. Namun, tidak ada penjelasan lebih lanjut terkait kualitas pengolahan makanan tersebut.
“Iya, benar. Menu hari ini daging sapi,terkait hal itu nanti kami akan musyawarahkan dan kami sampaikan nanti” ujarnya singkat saat dikonfirmasi via WhatsApp.
Kondisi ini langsung menuai reaksi keras dari aktivis Germasi, Wahdi Syarif. Ia menilai kejadian ini bukan sekadar kelalaian, melainkan indikasi lemahnya standar dan pengawasan dalam pelaksanaan program.
“Kalau daging sampai seperti itu, ini bukan lagi soal teknis, tapi soal kompetensi. Patut diduga juru masaknya tidak memiliki sertifikasi yang layak,” tegasnya.
Ia bahkan menduga adanya praktik tidak profesional dalam pengadaan tenaga masak.
“Jangan-jangan sertifikatnya hanya formalitas atau bahkan ‘nembak’. Ini harus diusut,” tambahnya.
Wahdi juga menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam dan akan membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih serius.
“Kami akan berkoordinasi dengan founder Germasi agar bisa diteruskan ke BGN dan mendorong evaluasi menyeluruh. Program sebesar ini tidak boleh dijalankan secara asal-asalan, apalagi menyangkut konsumsi masyarakat,” pungkasnya. (**)






