UNGKAPPOST, Bandar Lampung – Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Aliansi Aktivis Kritis Indonesia (A2KI) soroti dugaan buruknya kualitas proyek pembangunan Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) di Bandar Lampung yang menelan anggaran hingga Rp700 juta.
A2KI menilai proyek rehabilitasi gedung tersebut patut diduga dikerjakan tidak maksimal, jauh dari standar mutu yang semestinya. Sehingga memunculkan indikasi lemahnya perencanaan hingga pengawasan Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (PKPCK) Provinsi Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
LSM A2KI, Andri, mengatakan hasil pantauan di lapangan menunjukkan sejumlah pekerjaan belum rampung, bahkan beberapa bagian bangunan terlihat belum diperbaiki sama sekali.
“Ini proyek bernilai ratusan juta rupiah, tapi faktanya masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Kondisi seperti ini jelas menimbulkan kecurigaan serius terhadap kualitas pekerjaan,” tegas Andri, Rabu (28/1/2026).
Ia menyoroti kondisi plafon di ruang tengah gedung yang belum terpasang sempurna, serta plafon di sejumlah bagian luar dan dalam bangunan yang tampak rusak dan tidak layak.
“Kalau plafon saja sudah rusak dan belum beres, bagaimana dengan kualitas pekerjaan lainnya, Ini diduga sebagai bentuk kelalaian, baik dari sisi pelaksana maupun pengawas proyek,” ujarnya.
Menurut Andri, hasil pekerjaan yang dinilai amburadul tersebut menunjukkan bahwa perencanaan proyek sejak awal tidak dilakukan secara matang.
Ia juga mempertanyakan fungsi pengawasan dari instansi teknis yang bertanggung jawab atas pelaksanaan proyek tersebut.
“Kami menduga kuat pengawasan proyek ini sangat lemah. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis dan RAB,” kata Andri.
Hingga kini, Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya belum memberikan klarifikasi terkait perencanaan proyek. (Kin/Red)






