Bandar lampung,Ungkappost—13 september 2026- Pembangunan rigid beton di Jalan Pangeran Sultan Ageng Tirtayasa, wilayah Kelurahan Sukabumi dan Campang Raya, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung, menuai keluhan warga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pekerjaan yang seharusnya memperbaiki kualitas akses jalan justru dinilai warga menimbulkan persoalan baru selama proses pengerjaan. Sejumlah warga mengaku aktivitas sehari-hari hingga kegiatan usaha di sepanjang jalan ikut terdampak.
Keluhan terutama berkaitan dengan akses keluar-masuk yang menjadi lebih sulit selama pekerjaan berlangsung. Pelaku usaha yang menggantungkan aktivitasnya dari lalu lintas kendaraan di Jalan Tirtayasa mengaku harus menghadapi kondisi yang tidak mudah.
Bang A’an Gondrong, salah seorang warga yang menyuarakan keluhan tersebut, mengatakan masyarakat mempertanyakan minimnya pemberitahuan dan sosialisasi sebelum pekerjaan dilakukan.
Menurutnya, warga seharusnya mendapat informasi yang jelas mengenai tahapan pekerjaan, pengaturan akses kendaraan, hingga langkah yang disiapkan pemerintah untuk meminimalkan dampak terhadap aktivitas masyarakat.
“Warga sangat terdampak. Aktivitas untuk lewat menjadi terhambat, sementara usaha yang berada di pinggir jalan juga ikut terganggu karena aksesnya tertutup selama proyek berlangsung,” keluh A’an.
Tak hanya persoalan akses, warga juga menyoroti debu yang muncul selama proses pekerjaan. Kondisi tersebut disebut mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar lokasi.
Bengkel, warung, dan usaha kecil di sepanjang ruas jalan menjadi salah satu yang paling merasakan dampaknya. Ketika akses kendaraan terganggu, aktivitas pelanggan pun ikut berkurang.
“Debu juga mengganggu pernapasan dan aktivitas usaha. Bengkel dan warung-warung di pinggir jalan terdampak karena aksesnya tidak seperti biasanya,” ujar A’an.
Warga pada dasarnya tidak mempersoalkan pembangunan jalan. Mereka justru berharap proyek tersebut dapat segera diselesaikan dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat yang sehari-hari menggunakan dan mencari nafkah di kawasan tersebut.
Persoalan yang dipertanyakan warga adalah bagaimana pemerintah memastikan pembangunan tidak membuat masyarakat harus menanggung seluruh dampak selama pekerjaan berlangsung.
Warga juga berharap Dinas Pekerjaan Umum maupun aparatur pemerintah setempat turun melihat kondisi secara langsung, bukan hanya menunggu keluhan berkembang di tengah masyarakat.
Sebab, pembangunan infrastruktur menggunakan anggaran pemerintah pada akhirnya ditujukan untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu, proses pelaksanaannya juga dinilai perlu mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi warga di sekitar lokasi pekerjaan.
Proyek Jalan Pangeran Sultan Ageng Tirtayasa sendiri merupakan proyek peningkatan jalan dengan konstruksi rigid beton. Dinas PU Kota Bandar Lampung sebelumnya menyatakan terdapat dua titik beton yang mengalami keretakan dan bagian yang rusak parah akan dibongkar serta dikerjakan kembali.
Dengan adanya pekerjaan tersebut, warga berharap pemerintah tidak hanya mengejar target fisik proyek, tetapi juga memastikan akses masyarakat tetap diperhatikan.
“Jangan sampai jalan diperbaiki, tetapi selama prosesnya masyarakat justru merasa ditinggalkan. Kami berharap ada perhatian dari Dinas PU dan pemerintah setempat terhadap warga yang terdampak,” kata A’an.
Keluhan warga tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan infrastruktur bukan semata soal beton yang selesai di cor,dibalik proyek tersebut ada Aktivitas warga,usaha kecil,akses rumah serta penghidupan masyarakat yang harus tetap berjalan
Warga berharaf Pemerintah segera memberikan solusi ,yang terutama terkait akses menuju tempat usaha,pengendalian debu,serta komunikasi yang lebih terbuka selama proyek jalan tirtayasa berlangsung(Safrudin)


