Menabur Garam Diatas Luka : Kritik Atas SE Disdik Lampung Yang Menjadi Hukuman Psikologi Bagi Anak-Anak Tanpa Sosok Ayah

- Redaksi

Rabu, 17 Desember 2025 - 13:26 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: M. Iqbal Farochi

‎(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

UNGKAPPOST – Di tengah hiruk-pikuk upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung baru saja mengeluarkan sebuah surat edaran yang menggetarkan nurani. Melalui surat bernomor 400.3.8.5/3149/V.01/DP.2/2025, muncul sebuah instruksi mulia bertajuk Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR). Sebuah kebijakan yang seolah ingin meyakinkan kita bahwa kunci utama transformasi karakter siswa tidak terletak pada kurikulum yang adaptif atau fasilitas sekolah yang mumpuni, melainkan pada kehadiran fisik seorang ayah di depan meja wali kelas selama lima belas menit setahun sekali.

‎Sungguh sebuah langkah jenius yang sangat efisien dalam menghabiskan kertas dan energi administratif. Di saat kita berdiskusi tentang digitalisasi rapor dan efisiensi birokrasi, kita justru dipaksa kembali ke romantisme kehadiran fisik yang dipaksakan.

‎Kebijakan ini tampaknya lahir dari ruang-ruang ber AC yang nyaman, di mana realitas sosial dianggap selinear garis di atas kertas. Premisnya sederhana namun naif “Jika ayah datang ambil rapor, maka keterlibatan (father involvement) meningkat, dan psikososial anak langsung sehat.” Kita patut bertanya, apakah para pembuat kebijakan ini menyadari bahwa Lampung bukan hanya berisi keluarga kelas menengah perkotaan dengan jam kerja nine-to-five yang fleksibel?

‎Bagaimana dengan para ayah yang sedang bertaruh nyawa di perantauan? Para buruh yang akan kehilangan upah harian jika izin setengah hari? Atau para petani yang sedang mengejar masa tanam? Tampaknya, dalam kacamata birokrasi, kasih sayang dan keterlibatan ayah hanya sah jika dibuktikan dengan bukti hadir pengambilan rapor di sekolah. Selebihnya, perjuangan mencari nafkah dianggap sebagai variabel yang bisa diabaikan.

‎Ada hal yang menggelitik ketika institusi negara mulai merasa perlu mengatur siapa yang harus memegang map rapor di dalam sebuah keluarga. Pembagian peran domestik siapa yang berangkat ke sekolah dan siapa yang menjaga dapur tetap mengebul adalah kedaulatan rumah tangga yang seharusnya tidak dicampuri oleh surat edaran.

‎Alih-alih fokus menyelesaikan masalah krusial seperti kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah di Lampung, dinas terkait justru tampak sibuk menjadi konsultan keluarga dadakan. Ini adalah potret nyata dari sebuah institusi yang mungkin kehabisan agenda substansial, sehingga harus menciptakan hal- hal seremonial agar terlihat “ada kerjaan” di mata instansi mitra seperti BKKBN.

‎Lebih jauh lagi, kebijakan ini seolah menutup mata pada keragaman struktur keluarga. Di sekolah, akan ada anak-anak yang harus menunduk lesu bukan karena nilai matematikanya merah, tapi karena sosok ayah yang diminta hadir oleh negara memang sudah tidak ada, atau sedang berjuang di ruang yang tak terjangkau oleh surat edaran. Kebijakan yang diniatkan untuk “kesejahteraan psikososial” ini justru berpotensi menjadi belati psikologis bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga non-nuklir.

‎Kita tentu mendukung keterlibatan orang tua dalam pendidikan. Namun, memaksakan kehadiran fisik satu pihak melalui instruksi formal adalah bentuk kemalasan berpikir dalam memecahkan masalah pendidikan yang sistemik. Pendidikan butuh solusi pada kualitas pengajaran, bukan sekadar kehadiran fisik ayah yang dipaksa cuti hanya untuk mendengarkan wali kelas mengeluh soal uang iuran.

‎Jika indikator keberhasilan pendidikan diukur dari siapa yang mengambil rapor, maka kita sedang bergerak mundur menuju birokrasi lipstik yang selalu tampil cantik di laporan kegiatan, namun pucat pasi dalam substansi.

Berita Terkait

Komitmen Atasi Persoalan Sampah, Wabup Pringsewu Hadiri Rapat Terpadu di Pemprov Lampung
Pertamina Jamin Ketersediaan BBM dan LPG Subsidi di Tanggamus Tetap Stabil
Peninjauan ESDM: Stok LPG di Lampung Dalam Kondisi Aman
BPH Migas: Distribusi BBM di Lampung Terkendali dan Berkualitas
Pemudik Bisa Tukar Poin MyPertamina di Serambi Bakauheni
Pertamina Tambah Stok BBM di Lampung, Antisipasi Lonjakan Arus Balik
Pertamina dan Ditjen Migas Tinjau Pangkalan LPG, Pastikan Tidak Ada Kelangkaan
Jelang Mudik Lebaran, BPH Migas Pastikan Distribusi BBM di Lampung Berjalan Lancar

Berita Terkait

Sabtu, 18 April 2026 - 09:20 WIB

Diduga Lakukan Pungli di Jalinbar Wonosobo, Pria 50 Tahun Diamankan Tekab 308 Polres Tanggamus

Sabtu, 18 April 2026 - 09:16 WIB

Gubernur Herman Deru Terima Kunjungan Konjen Tiongkok, Dorong Peluang Investasi dan Kerja Sama Sumsel

Jumat, 17 April 2026 - 22:39 WIB

UPTD SDN 3 Siraman Borong Banyak Piala di O2SN 2026

Jumat, 17 April 2026 - 14:07 WIB

Wakil Bupati Pringsewu Umi Laila Lantik Pj Kapekon Gumuk Rejo Catur Hendra Susianto

Jumat, 17 April 2026 - 14:04 WIB

Polres Way Kanan Sambangi Pos Kamling Ajak Warga Aktif Jaga Kamtibmas

Jumat, 17 April 2026 - 06:16 WIB

RSMH Bantah Isu Pasien Koma Dipulangkan Paksa, dr. Siti Khalimah Tegaskan Masih Dirawat Intensif

Jumat, 17 April 2026 - 06:13 WIB

Dua Saudara Kandung Pengedar Ganja di Betung Ditangkap Berturut-turut dalam Satu Operasi Malam

Jumat, 17 April 2026 - 06:08 WIB

Dari Kader untuk Partai, Harya Siap Mengabdi sebagai Ketua PKB Kota Palembang: Konsolidasi, Regenerasi, dan Politik Kehadiran untuk Rakyat

Berita Terbaru

Sumatera Selatan

Keringat Pekerja Sawit Muba Kini Terlindungi Jaminan Sosial

Sabtu, 18 Apr 2026 - 01:32 WIB

DAERAH

UPTD SDN 3 Siraman Borong Banyak Piala di O2SN 2026

Jumat, 17 Apr 2026 - 22:39 WIB