Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1448 H dan bersih Kampung Sukabumi, Kepala Kampung Sukabumi Subroto mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan, menebarkan cinta kasih, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan masyarakat. Sehungan dengan hal tersebut maka diadakanlah Pengajian Akbar dan Penggelaran Wayang Kulit ” Hurah Menuju Kampung Rahayu Dengan Semangat Guyub Rukun. Hamemayu Hayuning Bawana, Serta Memperkuat Iman dan Takwa Kepada Allah SWT, serta Khitan Massal yang bertempat di Kampung Sukabumi, Minggu 12 Juli 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Subroto, selaku Kapala Kampung Sukabumi menyampaikan ketika pentas Wayang Kulit ” Hamemayu Hayuning Bawana adalah filosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan jawa. Memayu hayuning bawana jika diartikan dalam bahasa Indonesia bisa berarti “mengalir dalam hembusan alam”ataupun “memperindah keindahan dunia”. Orang Jawa memandang konsep ini tidak hanya sebagai falsafah hidup namun juga sebagai pekerti yang harus dimiliki setiap orang.Filosofi memayu hayuning bawana juga kental terasa dalam ajaran kejawen
Selain itu, memayu hayuning bawana juga menjadi spiritualitas budaya.Spiritualitas budaya adalah ekspresi budaya yang dilakukan oleh orang Jawa di tengah-tengah jagad rame (space culture). Pada tataran ini, orang Jawa menghayati laku kebatinan yang senantiasa menghiasi kesejahteraan dunia. Realitas hidup di jagad rame perlu mengendapkan nafsu agar lebih terkendali dan dunia semakin terarah. Realitas hidup tentu ada tawar-menawar, bias dan untung rugi. Hanya orang yang luhur budinya yang dapat memetik keuntungan dalam realitas hidup. Dalam proses semacam itu, orang Jawa sering melakukan ngelmu titen dan petung demi tercepainya bawana tentrem atau kedamaian dunia. Keadaan inilah yang dimaksudkan sebagai hayu atau selamat tanpa ada gangguan apapun. Suasana demikian oleh orang Jawa disandikan ke dalam ungkapan memayu hayuning bawana.
Memayu hayuning bawana memang upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin. Orang Jawa merasa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia, hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Di satu fisik secara harafiah, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di pihak lain secara abstrak, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya. Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena.
Menutup penyampaiannya Subroto mengucapkan terima kasih kepada panitia, masyarakat, atas dukungan dan semangat nya, sehingga acara ini dapat berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Semoga kebersamaan ini membawa kesan bagi kita semua, ” Tutup Subroto.
(Petrus Sumarno)



