UNGKAPPOST, Bandar Lampung – Hujan deras yang mengguyur selama kurang lebih tiga jam pada Selasa 14 April 2026 malam kembali merendam Kota Bandar Lampung. Banjir besar yang terjadi merata di hampir seluruh wilayah ini menyebabkan aktivitas kota lumpuh total, dengan ketinggian air mencapai dada orang dewasa di beberapa titik terparah.
Kelurahan Jagabaya 1 dan 2 menjadi wilayah dengan kondisi paling memprihatinkan. Luapan sungai yang meluap cepat merendam pemukiman warga di Gang Sepakat hingga setinggi dada.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua RT 03 Lingkungan I Jagabaya 2, Sofyan, menyebut ini sebagai banjir terburuk yang pernah terjadi. “Banjir sekarang sangat parah, sebelum-sebelumnya tidak pernah sampai setinggi ini,” ujarnya saat memantau lokasi jembatan penghubung antar-kelurahan.
Kondisi serupa terjadi di Kedaton. Air dilaporkan masuk ke rumah warga hingga setinggi pinggang hanya dalam waktu dua jam hujan. “Baru sebentar hujan, air sudah masuk rumah,” keluh Hafis, warga Kedaton.
Berdasarkan pantauan hingga pukul 21.00 WIB, genangan air setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa muncul cepat di
sejumlah kawasan strategis, di antaranya:
– Kedaton & Pertigaan RSUD Abdul Moeloek (setinggi lutut).
– Way Halim (kawasan Mie Gacoan).
– Kemiling, Kota Sepang, dan Rajabasa.
– Sukarame, Tanjung Senang, Panjang, hingga Teluk Betung.
Akibatnya, arus lalu lintas di jalan-jalan protokol seperti Jalan Teuku Umar, Jalan Pajajaran, Jalan Endro Suratmin, Jalan Morotai, Jalan Antasari, dan Jalan Hanoman mengalami kemacetan total. Banyak kendaraan mogok dan terpaksa berhenti menunggu air surut.
Berulangnya bencana ini memicu kemarahan publik. Warga mulai mempertanyakan efektivitas sistem drainase dan menagih “janji manis” Wali Kota Bandar Lampung dalam mengatasi persoalan klasik ini.
“Kalau sudah hujan begini, sudah pasti banjir. Persoalan ini terus berulang tanpa solusi konkret,” ujar Dika, warga Kemiling.
Novi, warga terdampak lainnya, mendesak pemerintah untuk berhenti menggunakan pola penanganan darurat dan mulai melakukan langkah strategis. “Wali Kota harus ambil langkah nyata agar kami tidak selalu dilanda ketakutan setiap hujan turun. Kerugian materi dan risiko keselamatan kami sudah terlalu besar,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, warga masih berjaga-jaga memantau debit air dan berharap hujan segera reda guna menghindari potensi jatuhnya korban jiwa. (**)






