Bandar Lampung — Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam aliansi lintas kampus dan organisasi kemahasiswaan menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Lampung, Senin (15/6/2026). Dalam aksinya, mereka menyampaikan enam tuntutan utama sekaligus menyoroti hambatan yang dihadapi saat ingin menyampaikan aspirasi.

Mereka yang berunjuk rasa terdiri dari perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Kesatuan Aktivis Mahasiswa dari Universitas Lampung (Unila), UIN Raden Intan Lampung, Institut Teknologi Sumatera (Itera), serta diperkuat elemen Cipayung Plus seperti PMII, HMI, GMKI, IMM, KAMMI, dan LMND.
Adapun enam tuntutan yang disampaikan dalam orasi aksi, yaitu:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
1. Menjadikan pendidikan sebagai program prioritas, serta mewujudkan sistem pendidikan yang gratis, ilmiah, dan demokratis;
2. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dinilai memberatkan masyarakat;
3. Menghentikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih;
4. Melakukan revisi terhadap Undang-Undang Kepolisian, serta menghentikan praktik militerisme dalam ranah kehidupan sipil;
5. Mendorong penerapan regulasi perpajakan atas kekayaan secara adil dan transparan;
6. Mewujudkan penegakan Hak Asasi Manusia (HAM) yang sejati dan berkeadilan.
Saat hendak memasuki kawasan gedung dewan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, peserta aksi mendapati pintu gerbang utama telah dipasang portal dan kawat berduri. Aparat kepolisian yang berjaga membatasi akses masuk dan meminta aksi dilaksanakan secara tertib di luar kawasan kantor DPRD.
Koordinator Lapangan menilai pemasangan kawat berduri tersebut sebagai bentuk penghalangan terhadap hak konstitusional warga negara untuk menyampaikan pendapat dan aspirasi. Sementara itu, aparat kepolisian menyatakan langkah pengamanan tersebut diterapkan untuk menjaga ketertiban umum dan keamanan lingkungan perkantoran.
Situasi sempat memanas ketika sebagian peserta berusaha mendekati pintu gerbang. Akhirnya, aksi berlangsung di bahu jalan depan kompleks perkantoran, di mana mahasiswa menyampaikan orasi secara bergantian, membakar ban bekas sebagai simbol protes, serta menyanyikan lagu-lagu kebangsaan dan perjuangan.
Hingga berita ini diturunkan sekitar pukul 12.00 WIB, situasi di lokasi terpantau tetap kondusif namun tetap padat dan diawasi ketat oleh aparat kepolisian. Salah satu orator mengajak seluruh peserta agar perjuangan yang disampaikan tidak berhenti hanya pada aksi hari ini, melainkan terus dikawal hingga mendapat tanggapan serius dari pemerintah dan wakil rakyat.(Yani)
